Nama : Iqbal Atourrohman
Kelas : PAI III/A
NIM : 2114219
AKHLAK
ISLAMI
Pendahuluan
A. Definifsi akhlak
Secara
Etimologi, Al-Akhlaq merupakan bentuk plural dari al-khuluq yang digunakan
untuk mengistilahkan sebuah karakter dan tabiat dasar penciptaan manusia. Kata
ini terdiri atas huruf kha-la-qa yang biasa digunakan untuk menghargai sesuatu. Allah SWT berfirman, "Dan
sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur."
(QS. Al-Qalam: 4). Akhlak mulia di
dalam ayat ini, sebagaimana dikemukakan Ath-Thabari, bermakna tata krama yang
tinggi; yaitu tata krama Alquran yang telah Allah tanamkan di dalam jiwa
Rasul-Nya.
Secara Terminologi, Menurut Ibnu Taimiyah,
akhlak berkaitan erat dengan iman, karena iman terdiri dari beberapa unsur
berikut ini: pertama, berkeyakinan bahwa Allah adalah Sang Pencipta
satu-satunya, Pemberi rezeki dan Penguasa seluruh kerajaan. Kedua,
mengenal Allah dan menyakini bahwa Dia yang patut disembah. Ketiga, Cinta
kepada Allah melebihi segala cinta terhadap semua makhluk-Nya. Keempat, cinta
hamba kepada Tuhannya akan mengantarkannya pada tujuan yang satu, yaitu demi
mencapai ridha Allah SWT.
B. Akhlak Islami
Akhlak islami
adalah perilaku yang dilakukan untuk meraih kehidupan terbaik dan metode utama
untuk berinteraksi dengn orang lain. Dengan
akhlak islami, perilaku manusia didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan.
Perilaku ini ditujukan untuk kehidupan yang lebih baik. Sebagian ulama berpendapat bahwa akhlak dalam perspektif Islam
adalah sekumpulan asas dan dasar yang diajarkan oleh wahyu Ilahi untuk menata
perilaku manusia. Hal ini dalam
rangka mengatur kehidupan seseorang serta mengatur interaksinya dengan orang
lain. Tujuan akhir dari semua itu adalah untuk merealisasikan tujuan diutusnya
manusia di atas muka bumi ini.
Tatanan akhlak dalam perspektif
Islam bercirikan dua hal berikut ini:
1. Karakter Rabbani. Hal ini menjadi dasar yang paling kuat
karena setiap detik kehidupan manusia harus berdasarkan atas hasratnya untuk
berkhidmat kepada Allah melalui interaksinya dengan makhluk-Nya. Karena itu,
wahyu dirilis sejalan dengan bentuk tatanan akhlak ini.
2. Karakter manusiawi.
Jika dilihat dari sisi akhlak yang merupakan aturan umum dari dasar-dasar budi
pekerti umum lainnya, manusia memiliki peranan dalam mementukan kewajiban
tertentu yang khusus dibebankan kepadnya. Selain itu, ia memiliki peranan dalam
mengenal perilaku manusia yang lain. Atas dasar inilah akhlak dpandang sebagai
jiwa agama Islam. Rasulullah bersabda, "Kebajikan adalah akhlak
mulia."
Dan
sebaik-baik akhlak adalah akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Di
dalam jiwa Rasulullah SAW merangkum banyak akhlak mulia, seperti sifat malu,
mulia, berani, menetapi janji, ringan tangan, cerdas, ramah, sabar, memuliakan
anak yatim, berperangai baik, jujur, pandai menjaga diri, senang menyucikan
diri, dan berjiwa bersih.
Ibnu Qayyim
menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memadukan takwa kepada Allah dan sifat-sifat
luhur. Takwa kepada Allah SWT dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba
dan Tuhannya, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan
sesama makhluk Allah SWT. Jadi, takwa kepada Allah SWT akan melahirkan cinta
seseorang kepada-Nya dan akhlak mulia dapat menarik cinta manusia kepadanya.
Hisyam bin
Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah
menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Alquran." (HR Muslim). Sungguh jawaban Aisyah ini singkat, namun
sarat makna. Ia menyifati Rasulullah SAW dengan satu sifat yang dapat mewakili
seluruh sifat yang ada. Memang tepat, akhlak Nabi SAW adalah Alquran. Allah SWT berfirman, "...Alquran ini
memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus..." (QS. Al-Israa': 9).
“(Yang) memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus..."
(QS. Al-Jinn: 2).
Akhlak beliau adalah Alquran;
kitab suci umat yang disifati dengan firman Allah, "...tidak ada keraguan
padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah:2).
C. Sumber Akhlak Islam
Akhlak yang
benar akan terbentuk bila sumbernya benar. Sumber akhlak bagi seorang muslim
adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruk, patut atau
tidak secara utuh diukur dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan tradisi
merupakan pelengkap selama hal itu tidak bertentangan dengan apa yang telah
digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai
sumber akhlak merupakan suatu kewajaran bahkan keharusan. Sebab keduanya
berasal dari Allah dan oleh-Nya manusia diciptakan. Pasti ada kesesuaian antara
manusia sebagai makhluk dengan sistem norma yang datang dari Allah SWT.
Faktor-faktor Pembentuk
Akhlak
|
1.
|
Al-Wiratsiyyah (Genetik)
|
|
|
|
|
|
Misalnya: seseorang yang berasal dari daerah Sumatera
Utara cenderung berbicara “keras”, tetapi hal ini bukan melegitimasi seorang
muslim untuk berbicara keras atau kasar karena Islam dapat memperhalus dan
memperbaikinya.
|
|
|
|
|
2.
|
An-Nafsiyyah (Psikologis)
|
|
|
|
|
|
Faktor ini berasal dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh
keluarga (misalnya ibu dan ayah) tempat seseorang tumbuh dan berkembang sejak
lahir. Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (Hadits).
|
|
|
Seseorang yang lahir dalam keluarga yang orangtuanya
bercerai akan berbeda dengan keluarga yang orangtuanya lengkap.
|
|
|
|
|
3.
|
Syari’ah Ijtima’iyyah (Sosial)
|
|
|
|
|
|
Faktor lingkungan tempat seseorang mengaktualisasikan
nilai-nilai yang ada pada dirinya berpengaruh pula dalam pembentukan akhlak
seseorang.
|
|
|
|
|
4.
|
Al-Qiyam (Nilai Islami)
|
|
|
|
|
|
Nilai Islami akan membentuk akhlak
Islami.Akhlak Islami ialah seperangkat tindakan/gaya hidup yang terpuji yang
merupakan refleksi nilai-nilai Islam yang diyakini dengan motivasi
semata-mata mencari keridhaan Allah.
|
|
Pentingnya Akhlak Islami
|
|
|
|
·
Keluhuran
akhlak merupakan amal terberat hamba di akhirat
|
|
|
·
“Tidak
ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi
keluhuran akhlaknya” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)
|
|
|
· Akhlak
merupakan lambang kualitas seorang manusia, masyarakat, umat karena itulah
akhlak pulalah yang menentukan eksistensi seorang muslim sebagai makhluk
Allah SWT.
|
|
|
·
“Sesungguhnya
termasuk insan pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya”(Muttafaq
‘alaih).
|
|
Cara Mencapai Akhlak Mulia
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar